Banua Lima adalah sebuah situs pemesanan pakaian Sasirangan.
Sasirangan adalah pakaian tradisional khas suku Bajar di Kalimantan Selatan. Kantor Banua Lima terletak di Jl. Timoho Gendeng GK IV No 817 kelurahan Baciro Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta.

Banua Lima melayani pemesanan kain atau pun pakaian jadi berskala besar atau kecil. Kain atau pakaian jadi dari Banua Lima langsung di datangkan dari produsen yang ada di Banjarmasin.
Selain melihat di situs kami, konsumen juga Bisa datang langsung ketempat kami untuk melihat contoh-contoh kain atau pakaian jadi yang kami sediakan.

Banua Lima menyediakan dari kain belum jadi sampai pakaian anak-anak, remaja, dan orang dewasa dengan berbagai motif pilihan.

Transaksi bisa dilakukan melalui internet atau datang langsung ketempat kami, jadi konsumen bisa memilih sendiri motif atau warna yang hendak di pesan. Untuk sementara ini kami hanya melayani pemesan dalam negeri saja.

Tujuan di dirikannya usaha Banua Lima adalah untuk memperkenalkan salah satu produk unggulan daerah yang memperkaya budaya bangsa ke masyarakat luas. Jika sekarang kebanyakan orang hanya mengenal Batik, kini kami mencoba memperkenalkan produk unggulan dari daerah Banjarmasin yang diharapkan bisa mengimbangi kepopuleran batik.








Baca Selengkapnya......
Selasa, 23 Februari 2010 Posted in | | 0 Comments »

Nanang dan Galuh Banjar (semacam abang dan none Jakarta) yang dipilih setiap tahun diKalsel.



KAIN KHAS SASIRANGAN
Warga Kalsel, boleh merasa bangga dengan adanya kain sasirangan,
sebagai simbol budaya masyarakat sejak nenek moyang, walau tadinya kain
itu diciptakan untuk pengobatan, tetapi belakangan kain itu telah
menjadi nilai jual yang tinggi, dipakai bukan saja sebagai pakaian
resmi, acara pesta, dan perkawinan, tetapi sudah masuk sebagai bahan
baku perancangan busana kelas nasional.

Buktinya saja, seorang perancang busana, Ian Adrian dari jakarta
telah mempopulerkan kain tersebut sebagai bahan utama rancangannya dan
telah pula di peragakan pada acara fashion show bertajuk “ulun bungas”
bahkan acara tersebut telah tercatat di Museum Record Indonesia (MURI).


Berdasarkan catatan
Gubernur Kalsel beserta 20 peragawati dan perancang Ia Adrian pada acara fashion show Ulun Bungas di Banjarmasin
Sasirangan dibuat dengan teknik tusuk jelujur
kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. Kain ini ada
beberapa motif antara lain Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit
Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit
Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis,
Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung
beberapa peragawati gunakan kain sasirangan


Presiden SBY dan ibu Ani SBY menggunakan kain Sasirangan khas Kalsel



1. Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan
Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya
digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum
lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum
wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara
adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain
sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi
pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang
dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan
khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan”
berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau
dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa
jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain
sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang
dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam
warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang
bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.Proses
Pembuatan Kain Sasirangan
Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk
keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan
motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan
jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit,
ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya,
sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk
proses selanjutnya.
Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna
untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan
untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan
saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya
sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang
mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian
diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk
sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian
ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air
panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus
bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap
selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.
Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus
ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya,
diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit
demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua
dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan
dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat
dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara
pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang
telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya
sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi
sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna,
kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga
terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada
kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah
selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan,
(diktp dr tlisn bambang miranto)
2. DALAM BAHASA BANJAR MEMILIKI “SEGUDANG” PERIBAHASA
Banjarmasin,3/11 (ANTARA)- Seorang ahli bahasa Banjar yang juga dosen
senior Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin,Haji Djantera
Kawi mengungkapkan bahwa dalam bahasa Banjar yang digunakan masyarakat
terbesar di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) serta daerah komunitas
suku Banjar di tempat lain mengandung segudang peribahasa atau
ungkapan-ungkapan.
“Berdasarkan penelitian seorang tak kurang dari 1.371 buah pribahasa
atau ungkapan yang digunakan dalam kesempatan berbahasa Banjar,” kata
Djantera Kawi seperti dilaporkan, Sabtu.
Masalah peribahasa dalam sastra Banjar ini pula yang disampaikannya
melalui kegiatan Kongres Budaya Banjar beberapa hari lalu dengan judul
“Sastra banjar untuk meningkatkan apresiasi generasi muda” dalam sebuah
seminar kaitan kongres budaya banjar ke -1 di Banjarmasin.
Menurut budayawan ini, jika diasumsikan setiap ungkapan atau peribahasa
tersebut mengandung satu ‘pra-ide’ sebagai segmen realita yang berarti
masyarakat Banjar memiliki kekayaan batin luar biasa nilainya yang
menyiratkan ‘pra-ide’ atau pandangan dunia yang khas.
Sebagai contoh saja, tambahnya peribahasa yang dimulai dengan kata
‘kada’ dan ‘jangan’ seperti ‘kada ada buriniknya’ (tak ada
ceritanya), kada ada kancur jeriangaunya (kada ada hubungannya), kada
ada urat tulangnya, kada babuku baruas, kada bakar kabawah, kada
bataring lagi, kada ingat burit kepala, kada hanyar belalawasan, kada
jadi baras, kada kulih kiwa, dan ungkapan lainnya.
Ungkapan mengggunakan kata jangan seperti jangan bacakut papadaan,
jangan mahabui muha kawan, jangan manahipunai, jangan jadi laki urukan,
jangan membuka pajaan, jangan maungkai pakasam, jangan sampai bungkas
dimuntung, dan sebagainya.
Ungkapan seperti kada ingat burit kepala, adalah sebuah konsep
intropeksi, kada ingat dimaknai dengan lupa atau tidak sadar, tidak
melihat, tidak kenal, sehingga secara keseluruhan ungkapan itu dapat
dimaknai tidak menyadari atas komponen dirinya atau sekitarnya, atau
tidak mengenali lingkungan internal dirinya, tidak sadar akan
keberadaan bagian-bagian yang tak terpisahkan darinya sebagai sebuah
kesatuan.
Ungkapan, jangan manahi punai secara realitas orang sering membedakan
antara ‘tanah’ biasa dengan tahi atau kotoran dari burung punai.
Ungkapan ini menyiratkan bahwa jejelasan identitas adalah sebuah
prinsip yang harus dihayati dan dijunjung tinggi, jangan seperti tahi
punai yang tidak jelas adanya.
Ungkapan lain seperti jangan bacakut papadaan yang bisa diartikan
sebagai anjuran untuk tidak terjadi perselisihan, pertentangan,
perbedaan yang menjurus kepada perpecahan diantara sesama lingkungan
sendidi demi membela dan mempertahankan prinsip ataupun kepentingan
masing-masing.
Walau dalam sastra Banjar tersebut terdapat banyak peribahasa dan
ungkapan yang syarat arti positif tetapi penggunaan ungkapan dan
peribhasa tersebut sudah mulai ditinggalkan seiring kian kemajuan zaman.
Oleh karena itu Haji Djantera Kawi dalam seminar yang diikuti peserta
dari kalangan tokoh Suku Banjar baik dari Kalsel, sendiri Kalteng,
Kaltim dan Tembilahan (Riau), Langkat (Sumatera Utara) Jogyakarta,
Jakarta, Surabaya, dan Selangor (Malaysia) mengajak semua pihak yang
berkomitmen terhadap keberadaan ungkapan Banjar itu untuk mendata
kembali jumlah ungkapan dan peribahasa tersebut lalu
mendokumentasikannya.
Selain itu harus ada pula upaya atau melakukan analisis ilmiah
berdasarkan teori relatifitas linguitik dan teori semiotika, serta
melakukan kodifikasi dan kategorisasi untuk berbagai keperluan, serta
merumuskan langkah revitalisasi, akualisasi dan strategis sosilaisasi
apresiasinya, kata budayawan Banjar tersebut.




Baca Selengkapnya......
Posted in | | 0 Comments »

Kain Sasirangan ini asal mulanya digunakan atau dipercaya untuk kesembuhan bagi orang yang tertimpa suatu penyakit (pamintaan). Kain ini dipakai pada upacara adat suku daerah Banjar. Kain sasirangan ini berbentuk laung (ikat kepala), kekamban (kerudung) dan tapih bumin (kain sarung). Sebagai bahan pewarna diambil dari bahan bahan pewarna alam seperti jahe, air pohon pisang, daun pandan dll.
Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa, di Kalimantan Selatan telah dikenal masyarakat sejenis batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Menurut cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat.

Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan.

Sebagai bahan baku kainnya, yang banyak digunakan hingga saat ini adalah bahan kain yang berasal dari serat kapas (katun). Hal tersebut disebabkan karena pada mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang lain seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku cukup meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.

Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh beberapa faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang/jenis bahan pengikat.

Dengan mengkombinasikan antara motif-motif asli yang satu dengan motif asli yang lainnya, maka kain kain sasirangan makin menarik dan kelihatan modern Selain itu motif-motif tersebut dimodifikasi sehingga menciptakan motif-motif yang sangat indah namun tidak meninggalkan ciri khasnya. Adapun corak atau motif yang dikenal antara lain Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Turun Dayang, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, Sarigading, Parada dll.

Produk barang jadi yang dihasilkan dari kain Sasirangan yaitu Kebaya, Hem, Selendang, Jilbab, Gorden, Taplak Meja, Sapu Tangan, Sprei dll. Penggunaan Kain Sasirangan inipun lebih meluas yaitu untuk busana pria maupun wanita yang dipakai sehari-hari baik resmi atau tidak.

Baca Selengkapnya......
Posted in | | 0 Comments »